About
JHSJ

The Journal of Humanity & Social Justice provides an internationally unique forum for leading research on the themes of humanity and social justice includes social, cultural, economics, politics, history, spiritual, and philosophical approaches. The journal explores links with equality and equity in housing, health, education, economic and human rights, as well as issues of ethnicity, racial, gender, disability, aging, violence, peace, immigration, segregation, religion, minority, poverty, globalization, land economy, enviromental justice, and other social inequalities as they relate to humanity and social justice.

Read More

Most Viewed Articles

  • Mohammad To'at, Dwia Aries Tina Pulubuhu, Rahmat Muhammad
    This study aims to analyze the use of QRIS as a digital payment alternative for young people and explore the factors influencing its adoption among students. This study used a quantitative approach with a descriptive research type. The population in this study were students enrolled in the Master of Sociology Program at Hasanuddin University. The sampling technique in this study was a probability sampling method, with the type of method used being total sampling, where the sample size was the same as the population with a total research sample of 86 people. The results of this study indicate that: first, the level of awareness respondents towards the use of the QRIS application as a transaction method is in the “Enough” category with a TCR of 60.093; second, QRIS functions as a social fact that maintains social order by reducing criminal acts & building trust between individuals; third, there are five stages of the innovation diffusion process in the practice of using the QRIS application among students, namely the introduction, persuasion, decision, implementation, & confirmation stages. Digital awareness in using the QRIS application among respondents involves seven main aspects: posthumanism, human-machine interaction, digital aesthetics, fluidity of identity & consciousness, technology & the evolution of consciousness, transcendence of physical boundaries, & interdisciplinarity.     Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan QRIS sebagai alternatif pembayaran digital bagi anak muda dan mengeksplorasi faktor- faktor yang mempengaruhi adopsinya di kalangan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa yang terdaftar di Program Magister Sosiologi ,Universitas Hasanuddin, dan Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan metode probability sampling dengan jenis Adapun jenis metode yang digunakan adalah total sampling dimana besar sampel sama dengan populasi dengan jumlah sampel penelitian yaitu sebanyak 86 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, tingkat kesadaran responden terhadap penggunaan aplikasi QRIS sebagai metode transaksi berada pada kategori “Cukup” dengan TCR sebesar 60,093; kedua, QRIS berfungsi sebagai fakta sosial yang menjaga keteraturan sosial dengan mengurangi tindakan kriminal dan membangun kepercayaan antar individu; ketiga, terdapat lima tahapan proses difusi inovasi dalam praktik penggunaan aplikasi QRIS di kalangan mahasiswa, yaitu tahapan pendahuluan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Kesadaran digital dalam penggunaan aplikasi QRIS di kalangan pemuda melibatkan tujuh aspek utama: posthumanism, interaksi manusia-mesin, estetika digital, fluiditas identitas dan kesadaran, teknologi dan evolusi kesadaran, transendensi batas fisik, dan interdisiplinaritas. Adopsi sistem pembayaran digital seperti QRIS di kalangan mahasiswa memiliki implikasi signifikan terhadap inklusi keuangan, keadilan sosial, dan pengurangan ketidaksetaraan  
    Published January 31, 2025Found in Vol. 7 No. 1 , 2025 (pp. 64-84)
    2.1k
  • Muhammad Al-khahfi Akhmad, Ramli AT, Sawedi Muhammad
    This study explores the phenomenon of teenagers' digital identity duality through the use of main and second accounts on Instagram social media. Using a mixed-methods approach, this study reveals the motivations, impression management strategies, and psychological and social impacts of this practice. The results showed significant differences in self-expression, impression management, self-disclosure, and self-promotion between main and second accounts. Qualitative findings reveal adolescents' motivations for creating a Second account as an expressive space separate from the idealized self-image on the main account, as well as their efforts in negotiating digital identity to fit social norms and the need for self-authenticity. This study reveals the complexity of dynamics in adolescents' identity construction in the digital world, where they attempt to balance the projection of a public self-image with authentic self-expression through the use of multiple accounts. This research contributes to the understanding of how adolescents navigate social pressures and the need to be fully recognized in the context of social media.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi fenomena dualitas identitas digital remaja melalui penggunaan akun utama dan akun kedua (second account) di media sosial instagram. Dengan menggunakan pendekatan mixed-methods, studi ini mengungkap motivasi, strategi pengelolaan kesan, serta dampak psikologis dan sosial dari praktik ini. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam ekspresi diri, manajemen kesan, self-disclosure, dan promosi diri antara akun utama dan second account. Temuan kualitatif mengungkap motivasi remaja membuat Second account sebagai ruang ekspresif yang terpisah dari citra diri ideal di akun utama, serta upaya mereka dalam menegosiasikan identitas digital agar sesuai dengan norma sosial dan kebutuhan autentisitas diri. Studi ini mengungkapkan kompleksitas dinamika dalam konstruksi identitas remaja di dunia digital, di mana mereka berupaya menyeimbangkan proyeksi citra diri publik dengan ekspresi autentik diri melalui penggunaan akun ganda. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana remaja menavigasi tekanan sosial dan kebutuhan untuk diakui secara utuh dalam konteks media sosial.
    Published January 31, 2025Found in Vol. 7 No. 1 , 2025 (pp. 43-63)
    1.5k
  • Damian Mellifont
    Recognising discrimination against the legally insane has a long and ugly history, the mistreatment of neurodivergent citizens is alive and well today. Following on, this rapid review addresses the question of: in what ways is discrimination against neurodivergent defendants experienced? Content analysis was applied to 30 relevant papers identified obtained from purposive searches of Legal Source, Google Scholar and Google (grey literature) databases. Content analysis informed three themes of: a) judge or jury member bias; b) loss of freedoms; and c) outdated or narrowly defined laws. The study concludes by warning about a loss of human rights with neurodivergence itself potentially placed on trial through alarmist, inaccurate and demeaning personal judgements. Crucially, a socially just term is promoted to help to depict the discrimination that can be experienced by neurodivergent persons in the contemporary legal system. This term is that of neurodivergism.
    Published January 30, 2023
    1.3k
  • Dian Puspita Sari, M. Tahir Kasnawi, Muh. Iqbal Latief, Muhammad Ashabul Kahfi, Saifur Rahman
    Patologi sosial melibatkan remaja seringkali dikaitkan dengan budaya urban yang dinamis dengan kerentanan pengaruh nilai dari luar masyarakat sehingga system control sosial melemah. Namun dalam kenyataanya, penyimpangan sosial remaja di wilayah rural juga rentan terjadi sehingga masyarakat pedesaan yang diyakini memiliki system control sosial yang kuat ternyata tergerus oleh kemajuan teknologi informasi. Namun penyimpangan sosial remaja di wilayah pedesaan masih kurang di Indonesia. Untuk itu penelitian ini bertujuan menganalisis faktor penyebab perilaku menyimpang pada kelompok remaja di Desa Malangke, Kabupaten Luwu Utara,Sulawesi Selatan,Indonesia. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan dan wawancara langsung. Informan dalam penelitian ini adalah remaja yang melakukan penyimpangan, orang tua dan masyarakat di Desa Malangke. Penelitian ini mengidentifikasi lima faktor utama yang menjadi penyebab remaja melakukan penyimpangan. yaitu pengaruh teman sebaya, rendahnya pendidikan, oknum kepolisian yang tidak menegakkan hukum dan rentan terhadap sogokan, faktor ekonomi dan faktor lingkungan keluarga. Penelitian ini juga mengeksplorasi pendapat warga untuk menanggulangi perilaku yang menyimpang pada kelompok remaja, yaitu memberikan efek jera, melakukan rehabilitasi bagi pecandu narkoba, meningkatkan kontrol keluarga dan masyarakat, serta kontrol sosial pada aparat desa setempat dan penguatan komitmen kepolisian dalam menegakkan hukum dengan lebih akuntabel.
    Published February 1, 2024
    802
  • Asmawati Asmawati, Hasbi Marissangan, Rahmat Muhammad
    Abstract The Ma'balla tradition is a typical banquet during the kenduri ceremony which uses teak leaves as a container to place the food served to guests. This tradition is carried out by the community, especially in Ranga Village, Enrekang District, Enrekang Regency. This typical banquet has become an integral part of local community life which marks special rituals, both joyful and sorrowful events. This research describes the social actions of the community in implementing the ma'balla tradition by paying attention to cultural values, religion and social norms of the community. This research uses a descriptive qualitative method that collects data by means of participatory and non-participatory observation, in-depth interviews and documentation. The seven informants in this research consisted of Indo Gurutta (Village Imam), Ada' (Traditional Leader), Pattawa (Food Distributor), Indo Deppa (Women who took care of the distribution of cakes), the local government and the community who had an important role in the implementation. tradition. This research identifies three main actions of the community in implementing traditions, namely community participation, respect for traditions and maintaining the use of teak leaves. Interaction between communities is depicted in four social actions, namely traditional actions involving cooperation, mutual cooperation, and efforts to preserve Ma'balla as an ancestral heritage. People's affective actions consider Ma'balla to be something valuable and must be preserved, then the value rationality action shows that people carry out Ma'balla based on the value of caring because they consider it a form of alms. The instrumental rational actions of society are reflected in the use of teak leaves as a consideration of aesthetic and practical values, traditional actions are depicted in.   Abstrak Tradisi Ma’balla merupakan sebuah jamuan khas dalam upacara kenduri yang menggunakan daun jati sebagai wadah untuk menaruh makanan yang disajikan kepada tamu. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat khsusunya di Desa Ranga Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, jamuan khas ini telah menjadi bagian integral di kehidupan masyarakat setempat yang menandai ritual khusus baik itu acara sukacita maupun kedukaan. Penelitian ini menggambarkan tindakan sosial masyarakat dalam pelaksanaan tradisi Ma’balla dengan memperhatikan nilai-nilai budaya, agama dan norma sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deksriptif yang melakukan pengumpulan data dengan cara observasi partisipatif dan nonpartisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini sebanyak tujuh terdiri dari Indo Gurutta (Imam Kampung), Ada’ (Ketua Adat), Pattawa (Pembagi makanaan), Indo Deppa (Ibu-ibu yang mengurus pembagian kue), Pemerintah setempat dan Masyarakat yang memiliki peran penting terhadap pelaksanaan tradisi. Penelitian ini mengidentifikasi tiga tindakan utama masyarakat dalam pelaksanaan tradisi yakni partisipasi masyarakat, penghargaan terhadap tradisi dan mempertahankan penggunaan daun jati. Interaksi antarmasyarakat tergambarkan dalam empat tindakan sosial yakni tindakan tradisional yang melibatkan kerjasama, gotong royong, dan upaya melestarikan Ma’balla sebagai warisan leluhur. Tindakan Afektif masyarakat menganggap Ma’balla adalah sesuatu yang berharga dan harus dilestarikan, kemudian tindakan rasionalitas nilai menunjukkan bahwa masyarakat melaksanakan Ma’balla didasarkan nilai kepedulian karena menganggapnya sebagai bentuk sedekah. Tindakan rasional instrumental masyarakat tercermin dalam penggunaan daun jati sebagai pertimbangan nilai estetika dan kepraktisan, tindakan tradisional digambarkan dalam
    Published January 31, 2025Found in Vol. 7 No. 1 , 2025 (pp. 25-42)
    744

Indexing

Journal of Humanity and Social Justice is indexed by:

   

Now Accepting Submissions

Share your insights with the Indonesian Social Justice Network—our platform for impactful, socially conscious research.

 

Submit a Manuscript